Seni Hidup Pelan: Cara Menemukan KETENANGAN di Dunia yang Terlalu Cepat | CerBuk Ep. 006
Pernah merasa hidup berjalan terlalu cepat tapi hati justru makin lelah? Kita sering mengira solusinya adalah lari dari kenyataan, padahal yang kita butuhkan hanyalah mengubah ritme cara...
Pernah merasa hidup berjalan terlalu cepat tapi hati justru makin lelah? Kita sering mengira solusinya adalah lari dari kenyataan, padahal yang kita butuhkan hanyalah mengubah ritme cara kita menjalaninya.
Dalam video ini, Bukrie berbagi refleksi mendalam tentang esensi "Slow Living" dan bagaimana menemukan rasa cukup di tengah tuntutan dunia yang tak ada habisnya. Ini bukan tentang menjadi malas, melainkan tentang memilih ritme yang lebih manusiawi agar kita bisa kembali hadir utuh dalam setiap momen.
CerBuk (Cerita Bukrie) Episode 006 APA YANG KITA PELAJARI DARI VIDEO INI: Memahami ritme hidup: Kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Mengidentifikasi hal-hal yang tidak perlu vs hal-hal yang esensial.
3 Praktik sederhana: Mindfulness saat makan, berjalan, dan menggunakan barang. Filosofi "Kaizen": Kekuatan langkah kecil yang konsisten untuk perubahan besar.
Tonton video sumber
Kalau ingin menonton video lengkapnya, kamu bisa lanjut ke kanal Gani The Yong lewat link di bawah ini.
Buka video di YouTube: Seni Hidup Pelan: Cara Menemukan KETENANGAN di Dunia yang Terlalu Cepat | CerBuk Ep. 006Lanjut membaca
Artikel/Tips lain di sekitar topik ini
SLovi menampilkan artikel inti dari tim editorial dan tulisan kontributor di kategori yang sama, supaya pembaca bisa masuk dari teori maupun pengalaman nyata.
Channel YT Gani The Yong • Editorial
Pentingnya TIDUR SIANG di Tengah Kota yang Sibuk | Cerita Bukrie Episode 034
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang menuntut produktivitas tanpa henti, tidur siang sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal memberi tubuh jeda singkat 15–30 menit adalah bentuk kesadaran untuk merawat ritme dan kesehatan mental kita.
Channel YT Gani The Yong • Editorial
Gak Kerja Kantoran, Pilih Jualan Tanaman — Malah Lebih Bahagia
Lulus harus kantoran? Farhan dan Dian membuktikan sebaliknya — pasangan muda ini memilih mengelola bisnis taman dan nursery warisan tiga generasi, dan justru menemukan kebahagiaan serta kebebasan waktu yang tidak pernah mereka dapatkan di bangku kantoran.
