Slow Living Bukan Berarti Berhenti BEKERJA: Sebuah Refleksi | CerBuk Episode 011
Banyak yang mengira slow living berarti berhenti bekerja dan hidup seperti sedang liburan setiap hari. Benarkah kita harus mandiri secara finansial atau pindah ke desa untuk mulai hidup p...
Banyak yang mengira slow living berarti berhenti bekerja dan hidup seperti sedang liburan setiap hari. Benarkah kita harus mandiri secara finansial atau pindah ke desa untuk mulai hidup pelan?
Di video ini, saya berbagi perspektif tentang bagaimana tetap produktif dan berkarya tanpa harus kehilangan ketenangan batin. Bekerja bukan musuh dari slow living, melainkan bagian dari gairah hidup jika kita tahu cara mengatur ritmenya.
Mari kita bedah bersama mengapa slow living adalah soal kesadaran di setiap langkah, bukan soal seberapa sedikit pekerjaan kita. CerBuk (Cerita Bukrie) Episode 011 APA YANG KITA PELAJARI DARI VIDEO INI: Membedah miskonsepsi: Slow living tidak sama dengan malas atau menganggur.
Menemukan ritme kerja yang manusiawi dalam keseharian. Belajar dari sosok Kang Awi: Tetap mengabdi sebagai ASN namun tetap selaras dengan alam.
Tonton video sumber
Kalau ingin menonton video lengkapnya, kamu bisa lanjut ke kanal Gani The Yong lewat link di bawah ini.
Buka video di YouTube: Slow Living Bukan Berarti Berhenti BEKERJA: Sebuah Refleksi | CerBuk Episode 011Lanjut membaca
Artikel/Tips lain di sekitar topik ini
SLovi menampilkan artikel inti dari tim editorial dan tulisan kontributor di kategori yang sama, supaya pembaca bisa masuk dari teori maupun pengalaman nyata.
Channel YT Gani The Yong • Editorial
Pentingnya TIDUR SIANG di Tengah Kota yang Sibuk | Cerita Bukrie Episode 034
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang menuntut produktivitas tanpa henti, tidur siang sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal memberi tubuh jeda singkat 15–30 menit adalah bentuk kesadaran untuk merawat ritme dan kesehatan mental kita.
Channel YT Gani The Yong • Editorial
Gak Kerja Kantoran, Pilih Jualan Tanaman — Malah Lebih Bahagia
Lulus harus kantoran? Farhan dan Dian membuktikan sebaliknya — pasangan muda ini memilih mengelola bisnis taman dan nursery warisan tiga generasi, dan justru menemukan kebahagiaan serta kebebasan waktu yang tidak pernah mereka dapatkan di bangku kantoran.
